FOTO BERSAMA

FOTO BERSAMA
Keluarga Besar Lemkari Yapalis Karate Club Krian

SELAMAT JUMPA DI BLOGGER LEMKARI YAPALIS KARATE CLUB KRIAN

ILMU BELADIRI KARATE SEJATI ( yapalis karate club )

“ Ilmu Beladiri “ dijaman sekarang telah menjadi ajang pamer kegagahan, keindahan “ Seni” dan kekuatan fisik belaka. Mereka seakan “Lupa” bahwa Inti dari belajar Beladiri adalah untuk mendapatkan “ Ilmu beladiri “ yang tidak terbatas, jangan cuma hanya pada pengertian sempit yaitu “ Ilmu berkelahi “ saja.

“ Ilmu Beladiri Karate Sejati “ memiliki makna yang sangat luas bagi kehidupan yang sedang kita jalani ini, karena didalam ilmu tersebut diajarkan bagaimana kita dapat mengalahkan tantangan-tantangan hidup yang datang dari luar yaitu : cuaca panas- dingin, mencari nafkah, kelaparan, kehausan, serangan binatang buas atau manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki rasa welas asih serta datangnya penyakit, demikian pula serangan yang datangnya dari dalam diri sendiri, seperti halnya perasaan takut, rasa cemas, frustrasi, keragu-raguan, kebencian, kemarahan, kesedihan dan kesenangan yang berlebihan.

Semua itu hanya dapat dihadapi dan ditanggulangi dengan memiliki “Ilmu Beladiri Karate Sejati “ yang berisikan tentang kesadaran sejati, sikap belas kasih, penyabar, menghormati dan menghargai orang lain, suka menolong, kejujuran, kesungguhan hati, kesetiaan, keberanian, menggunakan logika, ketegaran hati, jiwa besar dan jiwa kesatria.

Sebagai manusia yang berilmu beladiri Karate sejati dan berpengetahuan, kita harus “menghargai diri kita sendiri “, tidak benar jika kita membiarkan diri kita dianiaya baik secara fisik maupun perasaan oleh pihak lain,… “ Orang yang berjuang untuk membela dirinya sendiri dapat digolongkan sebagai orang yang sedang melaksanakan Ibadah”.


Selamat datang

LEMKARI YAPALIS KARATE CLUB KRIAN

( SIDOARJO – JAWA TIMUR – INDONESIA )

Karate adalah seni bela diri dan sistem pertahanan diri. Secara harfiah "karate-do" berarti cara dari tangan kosong, mengacu pada fakta bahwa praktisi hanya menggunakan tangan, kaki dan tubuh. Karate juga didirikan pada tradisi filosofis dan spiritual dan berkembang tidak hanya tubuh tetapi juga pikiran dan karakter.Pada akhirnya tujuan karate tidak kecakapan fisik tetapi pengembangankeseimbangan, harmoni dan semangat melalui pelatihan disiplin yang Bumiputera berupaya menumbuhkan Anda dengan kedamaian dan keutuhan karakter untuk memperkaya hari-hari kehidupan.

LEMKARI YAPALIS KARATE CLUB ini memiliki instruktur yang berpengalaman,termasuk Instruktur Kepala Sensei Rudy Purnawan ( DAN IV Karate )
Shotokan berfokus pada Kihon (dasar), Kata (bentuk) dan Kumite (sparring) untukmengembangkan berbagai teknik yang kuat dan dinamis. Karena penekanan kuat pada dasar-dasar itu adalah mudah bagi pemula untuk melatih sama dengan individu yang lebih berpengalaman.

karate Terminologi

ichi 1
ni
2
san
3
shi
4
go 5
roku
6
Shichi
7
hachi
8
ku
9
ju
10

Posisi/Sikap
zenkutsu
sikap Dachi depan
hachiji
sikap alami Dachi
kokutsu
sikap Dachi kembali
kiba
sikap Dachi kuda
sochin
sikap tidak bergerak Dachi
neko ashi
sikap Dachi kucing
shizen tai
sikap siap

Teknik Menangkis/Memblokir
age uke Menangkis/blok keatas/meningkat
ude uke Menangkis/blok lengan dari luar tengah
gedan barai
Menagkis/blok ke bawah
uchi uke
Menangkis/blok lengan dari dalam
Shuto uke
Menagkis/blok dengan pisau tangan
kakiwake uke
Menangkis/blok dua tangan memisahkan

Teknik lengan tangan
tsuki
pukulan
oi zuki
melangkah dalam pukulan
gyaku zuki
terbalik pukulan
kizami zuki
jab pukulan
nukite
pukulan tombak tangan terbuka rapat
ura-ken
lecutan/hentakan pukulan

EMPI pukulan siku

Teknik kaki
keri
tendangan
maeh geri
depan sekejap tendangan
mawashi geri
tendangan dari arah samping
yoko geri
sisi kekomi dorong tendangan
yoko geri keage
sisi sekejap tendangan
Ushiro geri
kembali tendangan

Pengartian
jo Dan
kepala tingkat
chu Dan
perut tingkat
Ge Dan lebih rendah tingkat
sanb
on kumite tiga langkah perdebatan
ippon kumite
satu langkah perdebatan
jiyu kumite
semi-bebas perdebatan

Ketentuan Lain
kihon
dasar pelatihan
kiai
semangat fokus
kime
fokus
rei
hormat

Yoi sikap alami
Yame
berhenti
mawatte
mengubah
Hajime
mulai
mokuso
meditasi
Seiza
berlutut posisi

Total Tayangan Halaman

Kamis, 21 Januari 2010

Mengapa Kita Harus Kiai ?

Mengapa Kita Harus Kiai ?

Kiai, yang berarti teriakan semangat merupakan salah satu komponen penting dalam berlatih karate. Bukan sekedar mengeluarkan udara dan suara sekeras-kerasnya, namun lebih dari itu. Kiai yang salah hanya akan membahayakan karateka itu sendiri, karena dalam kondisi itu akan mudah diserang. Bahkan dalam serangan yang lemah sekalipun. Hal ini sering terjadi dalam turnamen. Mungkin karena terlambat kiai akhirnya serangan lawan masuk. Dan bisa ditebak, sakitnya jangan ditanya lagi. Belajar dari pengalaman, ternyata kiai ketika kita dipukul lebih sakit daripada kita dalam latihan biasa (yang tidak ada lawannya tentu saja !).

Nah, kembali ke masalah kiai tadi. Secara teori sebenarnya ada tiga manfaat poin penting dalam kiai. Yang pertama tentu saja menunjukkan semangat bertarung alias fighting spirit kita. Jelas kita nggak mungkin bertanding tanpa mengeluarkan suara. Seorang teman bilang, “Nggak seru deh, rasanya kok nggak niat”, begitu katanya. Dan rasanya pendapat itu tidak salah juga. Coba bayangkan sendiri kalau Anda kumite dengan lawan yang seperti itu. Dalam sesi latihan biasanya kiai pada gerakan kelima atau kesepuluh, jika berlatih dasar (kihon). Atau pada teknik yang terakhir. Umumnya senior/pelatih akan memberikan aba-aba untuk berteriak.

Jangan dikira kiai adalah pekerjaan mudah. Umumnya sering saya melihat yunior-yunior sangat sulit kalau disuruh kiai setiap akhir suatu teknik. Kalau murid pemula seharusnya tidak masalah, tapi kalau murid tingkat lanjut ? Tentu ini jadi masalah kalau harus turun dalam turnamen resmi. Karena fungsi kiai disini juga untuk mengantisipasi cedera dalam kumite. Kedua, mempengaruhi lawan. Bagaimana bisa dengan hanya berteriak lawan akan terpengaruh bahkan sampai ketakutan. Ada istilah kiai jutsu dalam dunia bela diri, dimana dengan hanya berteriak maka lawan akan mengurungkan serangan.

Rahasianya ternyata cukup simpel, dimana saat kita berteriak harus dilandasi dengan semangat berperang yang sungguh-sungguh tanpa keraguan dan ketakutan. Yang pasti saya tidak mengatakan ini mudah, karena saat kita maju menghadapi lawan ketakutan pasti ada. Dan rasanya itu hal yang manusiawi. Sedangkan yang terakhir, kiai bisa juga berfungsi sebagai elemen yang meningkatkan tenaga dengan memberi penekanan pada otot.

Dalam suatu acara demonstrasi, umumnya acara puncaknya adalah tamesware (pemecahan). Kalau Anda perhatikan, si peraga tentu kiai saat memecahkan batu, kayu, es atau apapun yang menjadi bahan tameswarenya. Tidak masalah dengan menggunakan bagian tubuhnya yang mana untuk memecahkan. Tentu saja dengan memecahkan harus didukung dengan pernapasan dan kime (fokus/konsentrasi) yang benar. Nah, itulah rahasianya kiai. Tapi boleh dong kalau saya menambahkan satu lagi. Kiai juga bisa membuat kita lebih rileks dan segar alias fresh. Dan memang dari sudut psikologi berteriak adalah salah satu cara menghilangkan ketegangan fisik dan pikiran. Anda setuju ?

Bun Bu Ryo Do


Bun Bu Ryo Do
Membaca judul diatas pasti banyak dari Anda yang mengernyitkan dahi. Bun bu ryo do terdengar asing karena lebih populer saat karate belum masuk ke Jepang. Bun bu ryo do berarti seorang ahli (dalam hal ini karate) yang tidak hanya mahir bela diri namun juga menguasai ilmu yang lain. Masyarakat Okinawa memberikan julukan ini pada orang yang tidak hanya mahir teknik bela diri namun juga terpelajar. Karena saat itu hanya sedikit saja orang yang mendapat julukan ini. Di masa lalu hanya segelintir orang Okinawa yang punya kesempatan mengenyam pendidikan. Penduduk Okinawa mayoritas hidup sebagai petani dan nelayan sehingga praktis yang bisa merasakan pendidikan layak adalah golongan terpandang dan bangsawan. Bun bu ryo do mengisyaratkan pentingnya seorang praktisi bela diri mempunyai intelektualitas.

Dibanding dengan sekarang minat ahli bela diri jaman dulu untuk mencari ilmu memang luar biasa. Mereka seakan tidak pernah puas dengan ilmu yang pernah dimilikinya. Tidak jarang mereka harus keluar dari daerah sendiri menyeberang ke negeri seberang untuk mencari ilmu baru. Mereka seakan menghargai ilmu lebih tinggi dari segunung emas. Karena saat itu Okinawa mendapat pengaruh kuat dari Cina dalam hal budaya, maka kebanyakan ahli bela diri Okinawa memperdalam teknik bela dirinya di sana. Beberapa dari mereka tidak sekedar mengejar bela diri, ada juga yang belajar ilmu Cina yang lain. Sebagai contoh Kanryo Higashionna (pendiri Naha-te) selain belajar bela diri juga belajar ilmu pengobatan tradisional Cina. Dengan hanya mengandalkan transportasi laut mereka berani bolak-balik Cina – Okinawa. Seperti peribahasa “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” sangat populer di negeri kita ini. Namun yang terjadi di Okinawa bukan sekedar peribahasa namun kenyataan sebenarnya.

Ahli bela diri Okinawa saat itu mampu pergi ke Cina karena mempunyai kelebihan baik dari jabatan atau finansial. Sokon Matsumura yang terkenal berulang kali ke Cina bertindak sebagai wakil raja Okinawa. Matsumura kemudian memanfaatkan untuk terus mengasah ilmu bela dirinya. Belakangan setelah kembali ke Okinawa, Matsumura membuktikan bahwa intelektualitas mutlak diperlukan seorang praktisi bela diri. Bukan demi menyombongkan diri, bukan sekedar omong kosong, Matsumura telah membuktikannya dalam duel melawan lembu jantan. Meski kisah itu hanya legenda, konon Matsumura berhasil mengalahkan lembu ganas itu tanpa melancarkan satu teknikpun. Tentu bukan begitu saja Matsumura melakukannya. Matsumura telah memikirkan caranya hingga akhirnya lembu jantan itu ketakutan hanya dengan mencium baunya.

Umumnya ahli bela diri Okinawa yang terkenal menguasai lebih dari satu ilmu. Selain Matsumura ada pula Azato yang menjadi guru Funakoshi sering terlibat dalam duel antar pendekar. Yang menakjubkan Azato tidak pernah terkalahkan, padahal dirinya belum pernah bertemu dengan lawannya. Selain memang berbakat, Azato mempunyai minat belajar yang luar biasa. Tidak cukup tode, Azato menguasai teknik berkuda, memanah dan seni pedang. Masih belum puas dengan ilmunya, Azato juga belajar seni sastra dan filosofi Cina. Di luar itu Azato memang dari keluarga terpandang hingga keluarganya mampu memberi pendidikan yang layak. Satu kelebihan Azato adalah dirinya pejabat terpelajar namun jiwanya sungguh merakyat. Kalau ada orang penting Okinawa yang rela “blusukan” (keluar masuk) ke pedalaman Okinawa, dialah Azato. Semua itu dilakukan untuk melihat kondisi masyarakatnya dari dekat. Tidak heran jika Azato sangat dihormati masyarakat Okinawa. Ketika sudah tua orang sehebat Azato merasa masih harus banyak belajar dan belajar. Mengagumkan.

Matsumura dan Azato adalah sebagian dari master karate masa lalu yang menghargai ilmu lebih bernilai daripada emas. Di jaman moderen seperti sekarang (untungnya) ada juga yang masih mampu melakukan hal itu. Nama Hirokazu Kanazawa barangkali tidak asing bagi praktisi Shotokan. Bagi Anda yang belum tahu Kanazawa adalah lulusan program kenshusei (pelatihan instruktur JKA) yang pertama. Kanazawa termasuk orang yang berpengaruh dalam karate Shotokan karena sukses mendirikan organisasi SKIF (Shotokan Karate-do Internasional Federation) setelah dirinya keluar dari JKA. Belakangan Kanazawa juga sukses dari segi finansial setelah mendirikan SKIF. Bahkan terbilang sangat sukses untuk ukuran praktisi bela diri yang umumnya tidak demikian. SKIF sangat banyak pengikutnya di Eropa dan Amerika. Hingga artikel ini ditulis mereka mengklaim telah memiliki anggota lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia. Cukup fantastis memang.

Kanazawa bisa dibilang orang kreatif karena banyak memodifikasi teknik Shotokan dengan bela diri lain. Yang sempat memancing kontroversi adalah saat Kanazawa mencampur beberapa elemen Tai chi dalam teknik orisinil JKA. Kanazawa juga sering keluar masuk dojo karate aliran lain demi mencari ilmu yang baru. Kadang dojo karate lain mengundangnya menjadi instruktur tamu dan begitu pula sebaliknya. Bagi Kanazawa hal seperti itu adalah positif selama kedua pihak dapat mengambil manfaatnya. Namun Kanazawa tidak begitu menyarankan hal itu, karena sebagian dojo karate masih ada yang menganggap kunjungan instruktur aliran lain dapat diartikan sebagai tantangan pada dojo yang bersangkutan. Saat ini meski sudah berhasil meraih peringkat Judan (dan sepuluh) dengan rendah hati Kanazawa menyatakan bahwa dirinya masih harus terus belajar dan belajar.

Bagaimana dengan kita? Adakah semangat untuk terus belajar dalam hidup ini? Apakah sudah merasa cukup, atau barangkali masih ingin terus belajar hal yang baru? Tidak perlu diperdebatkan karena pilihan ada di tangan Anda masing-masing. Hidup di Indonesia yang masyarakatnya lebih sibuk dengan urusan mengisi perut daripada mengisi otak agaknya menjadikan urusan yang satu ini terpinggirkan. Padahal saat ini kita hidup di jaman teknologi informasi serba canggih yang batas jarak dan waktu seakan tidak ada lagi. Tinggal klik sana-sini dan Anda sudah keliling dunia. Karena itu bersyukurkah bagi mereka yang masih mampu meyisihkan waktu (dan uangnya) untuk mencari hal-hal baru. Meski benar bahwa di negeri ini orang pandai belum tentu menjadi orang kaya, namun menjadi orang dengan banyak ilmu adalah tujuan yang layak diusahakan bukan?

Nakayama - Antara Legenda & Kontroversi





Posturnya terlihat tegap dan kuat. Sorot matanya tajam, kadangkala terkesan dingin bagi beberapa orang. Sebagian mengaguminya sebagai figur yang berwibawa dengan keahlian karate yang tidak diragukan lagi. Sebagian membencinya karena tindakannya yang dianggap melanggar larangan sang guru. Kontroversial, adalah kata yang sering melekat padanya. Namun tidak diragukan lagi, dia juga salah satu loyalis dari Bapak Karate Moderen. Jika Funakoshi menyebarkan karate di Jepang, maka dirinya telah menyebarkan karate ke penjuru dunia.

Masatoshi Nakayama adalah salah satu tokoh awal karate Shotokan. Namanya terkenal karena merubah fungsi karate sebagai kompetisi olah raga, sebuah cita-cita yang tidak pernah diinginkan oleh Funakoshi yang menggunakan karate sebagai “do”. Dilahirkan di Prefektur Yamaguchi tanggal 13 April 1913, Nakayama masih mempunyai hubungan dengan klan Sanada yang legendaris. Keluarga Nakayama secara turun-temurun menguasai bela diri tradisional Jepang. Naotoshi (ayahnya) belajar judo sedangkan Naomichi (kakeknya) terkenal sebagai instruktur kendo ternama. Antusias pada bela diri agaknya mengalir dalam darah Nakayama yang juga berlatih kendo dan judo sejak anak-anak.

Saat usianya beranjak remaja, Nakayama pindah ke Taiwan untuk meneruskan sekolahnya. Sebagai anak muda yang bersemangat, Nakayama terlibat dalam banyak kegiatan klub seperti atletik, renang, tennis dan ski. Meski sangat sibuk Nakayama tidak melupakan latihan kendonya. Sang kakek sangat gembira melihat cucunya menggeluti bela diri yang sama dengannya. Dirinya berharap agar kelak Nakayama akan mengikuti jejaknya sebagai instruktur kendo. Namun ternyata hal lain justru ada dalam benak Nakayama. Belajar di Taiwan agaknya menimbulkan rasa penasaran sekaligus keinginan untuk pergi Cina. Namun saat itu tidak mudah mencapainya karena dibutuhkan biaya yang tinggi. Nakayama kemudian memilih Universitas Takushoku untuk mewujudkan impiannya. Saat itu lulusan Takushoku memang banyak dikirim ke negara Asia untuk bekerja atau sebagai wakil Jepang.

Tahun 1932 diam-diam Nakayama mengikui tes masuk di Universitas Takushoku dan berhasil lulus. Nakayama sangat beruntung karena Takushoku terkenal sebagai universitas dengan koleksi bela diri tradisional Jepang yang lengkap. Dengan demikian dirinya tidak perlu susah-susah melanjutkan latihan kendonya. Saat jadwal latihan untuk seluruh kegiatan klub akhirnya diterbitkan, Nakayama ternyata keliru membaca jadwal latihan kendo yang terbalik dengan karate. Begitu datang ke dojo, Nakayama baru menyadari bahwa dirinya hadir di hari yang salah. Meski kecewa, Nakayama tidak langsung pulang, melainkan ingin melihat latihan karate dari dekat.

“…Di surat kabar aku telah membaca tentang karate, namun aku tidak begitu banyak mengetahuinya, karena itu kuputuskan untuk duduk dan melihatnya sebentar. Tidak lama, seorang laki-laki tua datang ke dojo dan mulai memberi aba-aba pada para murid. Dia benar-benar sangat ramah dan tersenyum pada siapapun, tapi tidak diragukan lagi bahwa dia adalah instruktur kepala. Hari itu, aku melihat Master Funakoshi dan karate untuk pertama kalinya. Aku menyukainya dan karena itu aku ingin mencoba karate pada latihan berikutnya, karena dengan pengalamanku di kendo seharusnya karate akan lebih mudah. Pada latihan berikutnya, dua hal yang terjadi telah mengubah hidupku; Pertama, aku benar-benar telah lupa dengan kendo, dan kedua, aku menemukan bahwa seluruh teknik karate ternyata tidak mudah dikerjakan. Sejak hari itu hingga sekarang, aku tidak pernah kehilangan semangat untuk berusaha menguasai teknik karate-do.”

Begitulah, Nakayama kemudian mulai menjalani latihan karate di Takushoku yang terkenal paling berat dan melelahkan. Saat itu hanya ada dua macam latihan karate, yaitu memukul makiwara sekitar 1000 kali dan mengerjakan satu macam kata 50-60 kali. Latihan yang membosankan namun menuntut fisik dan semangat yang prima itu berlangsung selama 5 jam. Akibatnya tidak banyak murid yang mampu bertahan, hingga dalam waktu 6 bulan hanya tersisa sedikit saja. Nakayama terus bertahan dan mengerjakan seluruhnya tanpa mengeluh.

Setahun setelah Nakayama bergabung dengan klub karate, latihan kumite mulai diperkenalkan. Tahun 1933 berturut-turut gohon kumite (5 teknik), sanbon kumite (3 teknik) dan ippon kumite (1 teknik) mulai diajarkan. Nakayama yang sebelumnya telah belajar kendo tidak begitu kesulitan dengan latihan model baru ini. Tahun 1934 kumite setengah bebas (jiyu ippon kumite) diajarkan dan ternyata mendapat respon yang positif dari kalangan mahasiswa. Model kumite ini adalah inovasi dari Yoshitaka Funakoshi yang terinspirasi dari latihan kendo. Sayangnya Nakayama saat itu telah pergi ke Cina hingga tidak begitu lama merasakan jiyu ippon kumite. Saat itu latihan kumite dianggap sebagai pengusir kebosanan dengan latihan Funakoshi yang hanya fokus pada kihon dan kata saja.

Tahun 1937 menjadi tahun yang melelahkan namun menggembirakan bagi Nakayama. Saat itu Nakayama berhasil lulus dari Takushoku namun harus pergi ke Cina sebagai wakil pertukaran pelajar dengan Universitas Peking. Nakayama dipilih karena termasuk pemuda yang pandai, apalagi sebelumnya telah belajar bahasa Cina di sela kesibukan karatenya. Saat akan kembali ke Jepang, Nakayama ternyata harus menundanya karena bekerja untuk pemerintah Cina selama beberapa waktu. Tahun 1946 Nakayama baru kembali ke Jepang, setahun setelah negara itu mendapat mimpi buruk akibat kalah perang. Saat itulah Nakayama mendapati kenyataan pahit dengan banyak rekannya di dojo telah tewas. Meski sulit, Nakayama berusaha mengumpulkan mereka yang pernah aktif berlatih karate dan mencoba mengorganisir latihan seperti sebelum perang. Tahun 1947 Nakayama menjadi instruktur kepala di Takushoku menggantikan Funakoshi. Upaya Nakayama berhasil mengembalikan reputasi Takushoku sebagai yang paling aktif dalam karate sesama dojo universitas.

Angin perubahan dunia karate Jepang terjadi tahun 1949 saat dibentuk Japan Karate Association (JKA). Organisasi ini muncul setelah beberapa murid senior Funakoshi menginginkan satu wadah yang resmi karate. Lebih jauh untuk menyatukan seluruh praktisi karate Jepang yang tercerai berai pasca perang. Meskipun dalam JKA Funakoshi bertindak sebagai guru besar kehormatan, namun usia yang telah lebih dari 80 tahun membuatnya tidak mungkin bertindak sebagai instruktur. Karena itulah Nakayama dipilih sebagai instruktur kepala mewakili Funakoshi. Tidak lama sesudahnya, tahun 1952 bagian pendidikan jasmani di Takushoku meminta bantuannya sebagai staf pengajar. Posisi itu adalah awal karirnya, karena di masa mendatang Nakayama menjadi kepala di divisi tersebut.

Setelah Funakoshi meninggal dunia, Nakayama berperan besar dalam proses awal JKA hingga menjadi besar seperti sekarang. Selain sebagai instruktur kepala, Nakayama melakukan banyak riset dalam karate. Agaknya posisi yang dekat dengan dunia akademis membuat Nakayama tidak kesulitan dengan hal itu. Hasilnya adalah apa yang terlihat dalam JKA moderen saat ini tampil sebagai organisasi karate yang terbesar di dunia. Ada tiga hal utama yang dianggap sebagai inovasi terbaik dari Nakayama, yaitu: menyebarkan karate ke penjuru dunia, program pelatihan calon instruktur JKA dan kompetisi karate. Meski banyak mendapat repon positif, seluruhnya program itu masih menyisakan pro dan kontra bahkan hingga kini.

Untuk mendukung promosi Shotokan JKA, Nakayama menerbitkan banyak buku karate. Diantaranya adalah “Dynamic Karate” (1965, 2 volume), Best Karate (1977, 11 volume), “Katas of Karate” (5 volume) dan “Superior Karate” (11 volume).

Selasa, 12 Januari 2010

Konsisten dengan Prinsip menurut Hanshi Williem Mantiri


Willem Mantiri, Mantan Pelatih Tim Nasional Karate Indonesia

Konsisten dengan Prinsip

Jawa Timur punya karateka berlevel internasional seperti Johny Koento, Umar Syarif, dan Hasan Basri. Tetapi, tidak dapat dimungkiri, ada tangan-tangan yang tidak terlihat di balik kesuksesan mereka. Siapakah dia?

---

RAMBUTNYA yang masih hitam dan disisir dengan rapi membuat dirinya tampak lebih muda daripada usianya. Genggaman tangannya pun masih keras.

Itu dirasakan setelah wartawan koran ini bertandang di kediamannya, Kompleks Perumahan Marinir, Masangan Kulon Blok O No 60, Sidoarjo.

Sosok tersebut adalah Willem Mantiri. Usia mantan pelatih terbaik nasional 1994 itu pun sudah tidak lagi muda.

Pada 5 Oktober mendatang, dia genap berusia 60 tahun. Namun, dengan usia setua itu, Mantiri masih tetap bersemangat untuk menciptakan karateka-karateka berkualitas dunia.

Semangatnya tersebut juga terlihat dari suasana rumahnya. Ya, di samping kanan rumah Mantiri, ada sebidang tanah kosong berukuran sekitar 4 x 4 meter.

Nah, lahan itu sering kali berfungsi ganda. Selain digunakan untuk parkir, juga sering dimanfaatkan sebagai tempat latihan oleh dua keponakannya, Kenedy Ryan dan Brandon.

Selain itu, di tempat tersebut, ada dua sansak yang berbentuk orang. Menurut Mantiri, dua sansak itu adalah sasaran tendangan dan pukulan dua keponakannya.

"Mereka sudah besar-besar. Jadi, tidak mungkin di antara mereka saling jadi sasaran tendangan dan pukulan,'' papar pemegang sabuk dan IV internasional itu.

Tidak jauh dari dua sansak tadi, berdiri sebuah lemari besar. Kotak kayu berdaun pintu kaca itu dipenuhi berbagai koleksi medali dan piala hasil prestasi dua keponakan dan adiknya, Anneke Mantiri.

''Ini adalah hasil perjuangan adik dan anak-anaknya. Saya bangga dengan ini semua. Mereka termasuk hasil polesan dan pemikiranku,'' cerita Mantiri.

Memang, selama berkarir di dunia karate, dia selalu konsisten dengan prinsipnya, yaitu memberikan contoh kepada orang lain dengan perbuatan. Bukan hanya itu, menurut dia, idealnya, sebelum menuntut orang lain sukses, keluarga dituntut harus lebih sukses.

Ternyata, yang membuat pemikiran serta prinsip hidupnya seperti itu adalah masa lalu. Sebab, meski ayah Mantiri adalah prajurit TNI, ekonomi keluarganya tidak terlalu baik.

Kondisi itu membuat Mantiri terdorong melakukan apa saja. Manitiri muda yang menghabiskan waktu kecil di Manado juga sering mengikuti tinju amatir di pasar-pasar malam. Motivasinya hanya satu, yakni mengejar hadiah sebakul nasi.

Itu menjadi kenangan manis bagi Mantiri selama ini. Dia mengatakan, karena terjun di olahraga keras itulah, jati dirinya terbentuk sejak masih remaja.

''Meskipun menang tinju, hadiahnya tidak bisa dinikmati. Sebab, hadiahnya cuma nasi. Mana ada makanan yang enak kalau mulut udah robek,'' kenang dia.

Itulah yang membuat Mantiri pernah mencoba banyak cabang olahraga, mulai sepak bola, karate, hingga tinju. ''Kebetulan, keluarga ayahku memang doyan tinju. Jadi, mau nggak mau tertular juga,'' kenang Mantiri.

Karena itu, sejumlah cerita yang menjadi sejarah masa lalu tersebut, menurut dia, adalah bagian yang penting dari jalan hidupnya. ''Banyak orang sering mengatakan bahwa pengabdian di olahraga itu adalah sebuah kecelakaan. Sebab, tidak banyak keuntungan yang bisa diraih dari sana. Namun, bagi saya, itu adalah sebuah pengabdian,'' jelas Mantiri. (sidik tualeka/diq)

BIODATA

Nama: Willem Mantiri

Lahir: Manado, 5 Oktober 1950

Level Karate: DAN VI

Prestasi Atlet

Juara Nasional 60 Kg 1985

Juara Nasional 60 Kg 1987

Prestasi Pelatih Nasional

Asian Games Hiroshima 1994

SEA Games Jakarta 1997

Kejuaraan Dunia di Rio de Janeiro, Brazil, 1998

Asian Games Bangkok 1998

Asian Games Busan 2002

Penghargaan

Pelatih nasional terbaik PWI Pusat 1994

Satya Karya Bhakti, Penghargaan KONI, 2003

Adi Manggala Krida dari Presiden RI 2003


Tidak Hanya Pukul dan Tendang

BAGI Willem Mantiri, karate tidak sekadar melatih pukulan dan tendangan. Tapi, dari olahraga bela diri tersebut, banyak manfaat yang didapat, baik kesehatan maupun pergaulan.

Selama menjadi pelatih, dia menyatakan tidak pernah menemukan seorang karateka yang keluar menjadi pembunuh di masyarakat atau tukang pukul di lingkungannya.

"Saya yakin, orang jahat akan menjadi baik kalau mau berlatih karate. Sebab, sejak menekuni karate, pasti motivasinya berubah. Artinya, kebiasaan memukul orang bakal bergeser untuk melindungi," ungkapnya.

Selain itu, mempelajari ilmu bela diri dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang, apalagi karate. Dalam dunia karate, selain fisik, jiwa kepemimpinan seseorang dilatih.

Menurut dia, kalau sudah seperti itu, seorang karateka sangat sulit untuk bisa dipengaruhi lingkungan yang kurang positif. Malah sebaliknya, dia cenderung tampil sebagai seorang pelatih.

"Meskipun termasuk cabang olahraga amatir, karate adalah aset negara. Sebab, bukan hanya fisik, tapi juga mental kita yang diperkuat," tutur Mantiri.

Pemikiran Mantiri itu berdasar realitas. Menurut dia, di Indonesia memang banyak yang melibatkan diri sebagai karateka. Tapi, di antara sekian banyak orang tersebut, tidak semua dijamin menjadi atlet. Karena itu, yang tidak menjadi atlet tersebut akan keluar menjadi calon pemimpin. (dik/diq)

Bangga Bisa Jabat Tangan dengan Pejabat

MELATIH timnas karate Indonesia merupakan kebanggaan terbesar Willem Mantiri. Rasa senangnya pun semakin berlipat jika disalami pejabat. Apalagi, dia mampu mencapai target yang telah dibebankan.

Menurut dia, kebanggaan yang ditemukan sebagai pelatih sangat berbeda dengan pengalamannya dalam dunia militer dulu. Dia mencontohkan, saat mendampingi atlet keluar negeri, upaya pelepasan dan penyambutannya sangat meriah.

Lain halnya dengan militer, berangkat dan pulang harus diusahakan tidak sedikit pun diliput media. Padahal, misi yang diemban sama, yakni memperjuangkan kehormatan bangsa.

Mantiri juga membandingkan, jika ada atlet yang meninggal dunia akibat merebut medali, dia diberitakan sebagai headline, namun tidak bagi tentara. Mati di negeri orang adalah aib yang harus disembunyikan.

''Jadi atlet itu enak, semua bisa didapat. Apalagi jika sudah menembus level nasional, pasti jadi langganan berita,'' ujarnya.

Menurut dia, peran media juga sangat penting dalam pembinaan atlet. Sebab, banyak atau tidaknya masyarakat mengetahui informasi tentang karate itu bergantung kekuatan media.

Dalam setiap latihan, dia selalu menekankan kepada anak didiknya tentang jiwa patriotisme. Sebab, hal itulah yang akan memacu semangat tanding mereka saat di gelanggang.

Atas dasar itu, metode latihan Mantiri sangat berbeda dengan banyak pelatih karate lain. Bagaimana tidak, saat latihan, dia termasuk pelatih yang gampang mengeluarkan tendangan dan pukulan bagi muridnya.

Jika ada murid yang melakukan kesalahan, sudah pasti tendangan dan pukulan dilancarkan Mantiri ke wajah murid tersebut. Untuk melakukan itu, dia juga tidak memandang besar atau kecilnya murid. (dik/diq)

Betah Dua Puluh Tahun Membujang

MATERI bukan hal yang penting bagi Willem Mantiri. Buktinya, dalam melatih, dia tidak banyak menuntut fasilitas dan gaji besar. Bagi dia, kepuasan itu tidak berada pada banyaknya uang yang dihasilkan. Tapi, kepuasan itu ada pada sebanyak apa atlet yang bisa diciptakan.

Bagi Mantiri, anggapan tersebut wajar. Sebab, tidak banyak hal yang harus dipikirkan oleh pria yang hobinya menembak tersebut. Ya, selama ini Mantiri memang hidup membujang. Itulah yang membuat dia berupaya memikirkan cara membiayai kuliah adik atau melengkapi kebutuhan rumah tangga lainnya.

"Sudah dua puluh tahun lebih saya hidup membujang. Jadi, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk karate dan mengurusi adik dan ponakan," ucap Mantiri.

Mantiri enggan bercerita banyak tentang alasan itu. Menurut dia, memikirkan masa lalu hanya menghabiskan waktu. Ambisinya berbuah hasil. Adiknya, Anneke Mantiri, mampu diorbitkan menjadi juara nasional. Demikian juga dua keponakannya, Ryan Kenedy dan Brandon.

"Berprestasi dan menciptakan atlet-atlet baru sudah menjadi kewajiban saya. Apalagi, ini dilakukan untuk keluarga," tukas dia.

Dia mengatakan, niat tulus itu dia berikan untuk keluarga dan orang lain. Sebab, keberhasilan bagi dia adalah seberapa jauh pengetahuan tentang dunia bela diri bisa diresapi oleh banyak orang.

Selain itu, menurut dia, terlibat dalam dunia karate adalah bagian dari pengabdian untuk negara. Sebab, saat ini yang dia miliki hanya ilmu karate. Apalagi, negara sering membantunya saat mengikuti pendidikan penaikan level di mancanegara. "Sebagai warga negara, kita harus seperti tentara, berjuang mengharumkan nama bangsa," papar dia. (dik/diq)

Selasa, 22 Desember 2009

SUSUNAN PENGURUS LEMKARI JAWA TIMUR PERIODE 2009 - 2013 dengan SK. PB LEMKARI

SURAT KEPUTUSAN PB. LEMKARI tentang
SUSUNAN PENGURUS DAERAH LEMKARI JAWA TIMUR
PERIODE TH. 2009 - TH. 2013



SUSUNAN PENGURUS DAERAH LEMKARI
JAWA TIMUR

PERIODE TH. 2009 - TH. 2013


Jumat, 13 November 2009

UJIAN KARATE TURUN KYU DI WILAYAH SIDOARJO BARAT Tgl 8 Nop`09 bertempat di Yapalis K arate Club


MATERI UJIAN KENAIKAN SABUK/TURUN KYU

SABUK PUTIH

A. KIHON

1. GEDAN BARAI ZENKUTSU DACHI Maju 5 kali, mundur 5 kali
2. OI - TSUKI CHUDAN Maju 5 kali, mundur 5 kali
3. OI - TSUKI JODAN Maju 5 kali, mundur 5 kali
4. AGE UKE Maju 5 kali, mundur 5 kali
5. UDE UKE Maju 5 kali, mundur 5 kali
6. UCHI UKE Maju 5 kali, mundur 5 kali
7. SHUTO UKE KHOKUTSU DACHI Maju 5 kali, mundur 5 kali
8. MAEGERI CHUDAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
9. MAEGERI JODAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
10. KEANGE KIBA DACHI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
11. KIKOMI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali

B. KUMITE

1 GOHON KUMITE, CHUDAN TSUKI/UDE UKE : Maju 5 kali, balas maju 5 kali.
2 GOHON KUMITE, JODAN TSUKI/AGE UKE : Maju 5 kali, balas maju 5 kali.

C. KATA

1 HEIAN SHODAN

Heian berarti “Fikiran penuh kedamaian”.Kata ini adalah kata pertama dari lima Kata tingkat dasar, yang diciptakan oleh Yasutsune Itosu ( salah satu guru Gichin Funakoshi).Meskipun tidak diketahu bagaimana Kata Heian ini diciptakan, tetapi banyak yang berpendapat bahwa Heian merupakan bagian dari Kata yang lebih tinggi tingkatannya yaitu Kata Kanku-Dai. Itosu menciptakan Kata Heian untuk memperkenalkan karate kedalam kurikulum sekolah untuk menghilangkan kesan tehnik yang berbahaya yang terdapat pada kata lanjutan. Heian Kata merupakan Kata Shorin, yang memperlihatkan kekuatan dan fleksibelitas gerakan.
Penting : Sikap kedepan dan Pukulan gerak maju . Memiliki 21 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.

2 HEIAN NIDAN

Heian Nidan berarti seri Heian yang kedua. Aslinya Kata ini merupakan Kata yang pertama, tetapi Gichin Funakoshi merubahnya, karena Kata ini lebih sulit untuk dipelajari maupun mengajarinya. Kata ini berhubungan dengan Kata Bassai-Dai.
Penting : Sikap balik kebelakang,tendangan menyamping,membalikan posisi pinggang/pinggul dan kombinasi tehnik. Memiliki 26 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.




SABUK KUNING

A. KIHON

1. GEDAN BARAI ZENKUTSU DACHI Maju 5 kali, mundur 5 kali
2. OI - TSUKI CHUDAN Maju 5 kali, mundur 5 kali
3. OI - TSUKI JODAN Maju 5 kali, mundur 5 kali
4. AGE UKE Maju 5 kali, mundur 5 kali
5. UDE UKE Maju 5 kali, mundur 5 kali
6. UCHI UKE Maju 5 kali, mundur 5 kali
7. SHUTO UKE KHOKUTSU DACHI Maju 5 kali, mundur 5 kali
8. MAEGERI CHUDAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
9. MAEGERI JODAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
10. KEANGE KIBA DACHI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
11. KIKOMI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali

B. KUMITE

1 GOHON KUMITE, CHUDAN TSUKI/UDE UKE : Maju 5 kali, balas maju 5 kali.
2 GOHON KUMITE, JODAN TSUKI/AGE UKE : Maju 5 kali, balas maju 5 kali.

C. KATA

1 HEIAN NIDAN

Heian Nidan berarti seri Heian yang kedua. Aslinya Kata ini merupakan Kata yang pertama, tetapi Gichin Funakoshi merubahnya, karena Kata ini lebih sulit untuk dipelajari maupun mengajarinya. Kata ini berhubungan dengan Kata Bassai-Dai.
Penting : Sikap balik kebelakang,tendangan menyamping,membalikan posisi pinggang/pinggul dan kombinasi tehnik. Memiliki 26 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.

2 HEIAN SANDAN

Heian Sandan berarti Heian yang ketiga dari Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Jitte. Penting : Sikap kesamping dan tangkisan atas (atas bahu/kepaa). Memiliki 20 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik

SABUK HIJAU

A. KIHON

1. GEDAN BARAI + GYAKU TSUKI ZENKUTSU DACHI Maju 5 kali, mundur 5 kali
2. NIDAN TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
3. SAMBON TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
4. AGE UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
5. UDE UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
6. UCHI UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
7. SHUTO UKE KHOKUTSU DACHI + NUKITE Maju 5 kali, mundur 5 kali
8. MAEGERI CHUDAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
9. MAEGERI JODAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
10. REN GERI MAEGERI CHUDAN/JODAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
11. MAWASI GERI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
12. KEANGE KIBA DACHI Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali
13. KIKOMI Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali
14. REN GERI KEANGE/KEKOMI (dua kaki ) Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali

B. KUMITE

1 SAMBON KUMITE, CHUDAN TSUKI Maju 3 kali, balas maju 3 kali.
2 SAMBON KUMITE, JODAN TSUKI Maju 3 kali, balas maju 3 kali.

3 IPPON KUMITE, CHUDAN TSUKI Maju 1 kali, balas di tempat.
4 IPPON KUMITE, JODAN TSUKI Maju 1 kali, balas di tempat.
5 IPPON KUMITE, MAEGERI CHUDAN Maju 1 kali, balas di tempat.

No 3, 4, dan 5 ( Bergantian KANAN DAN KIRI )

C. KATA

1 HEIAN SANDAN (KATA 3)

Heian Sandan berarti Heian yang ketiga dari Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Jitte. Penting : Sikap kesamping dan tangkisan atas (atas bahu/kepaa). Memiliki 20 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik

2 HEIAN YONDAN (KATA 4)

Heian Yondan berarti Heian keempat dari seri Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Kanku-Dai.

Hal Penting
Pengembangan/kontraksi, tangkisan dan tehnik penyelesaian. Memiliki 27 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.




SABUK BIRU

A. KIHON

1. GEDAN BARAI + GYAKU TSUKI ZENKUTSU DACHI Maju 5 kali, mundur 5 kali
2. NIDAN TSUKI Maju 5 kali, matte gedan barai maju 5 kali
3. SAMBON TSUKI Maju 5 kali, matte gedan barai maju 5 kali
4. AGE UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
5. UDE UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
6. UCHI UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
7. UDE UKE + EMPI Maju 5 kali, mundur 5 kali
8. SHUTO UKE KHOKUTSU DACHI + NUKITE Maju 5 kali, Mate Gedan barai maju 5 kali
9. MAEGERI CHUDAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
10. MAEGERI JODAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
11. REN GERI MAEGERI CHUDAN/JODAN (dua kaki) Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
12. MAWASI GERI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
13. MAEGERI CHUDAN + MAWASI GERI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
14. KEANGE KIBA DACHI Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali
15. KIKOMI Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali
16. REN GERI KEANGE/KEKOMI (dua kaki ) Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali

B. KUMITE

1 KIHON IPPON KUMITE, CHUDAN TSUKI kanan dan kiri
2 KIHON IPPON KUMITE, JODAN TSUKI kanan dan kiri
3 IPPON KUMITE, MAEGERI CHUDAN kanan dan kiri
4 IPPON KUMITE, KIKOMI kanan dan kiri
5 IPPON KUMITE, MAWASI GERI kanan dan kiri
( Bergantian Kanan dan Kiri )

C. KATA

1 HEIAN GONDAN (KATA 5)

Heian Godan berarti Kata Heian ke lima dari Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Gankaku.
Fleksibelitas dan keseimbangan
Memiliki 23 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.
(Klick gambar untuk perbesar)

2 TEKKI SHODAN

Tekki berarti kuda besi atau posisi berkuda. Tekki Shodan adalah kata Tekki pertama dalam seri Kata Tekki. Kata Tekki adalah Kata Shorei, menggambarkan kekuatan, tehnik yang penuh tenaga. Kata Tekki diciptakan dan direvisi oleh Yasutsune itosu. Funakoshi menghabiskan waktu tiga tahun untuk belajar dan menguasai masing-masing Kata Tekki ini ( pada waktu itu, setiap murid menghabiskan beberapa tahun untuk mempelajari Kata ). Tekki Shodan mempunyai nama asli Naihanchi dan diperkenalkan oleh Itosu, Tekki Nidan dan Sandan diciptakan oleh Itosu. Belum ada penjelasan yang memadai kenapa Tekki memiliki perlintasan gerakan satu garis, meskipun kadang terpikir dilakukan dengan baju besi dan/atau diatas punggung kuda (hal ini tidak bisa diaplikasikan secara teknis). Makna dari Kata ini dapat juga pertahanan dengan latar belakang dinding/tembok atau diatas perahu.
Penting : Posisi badan rendah yang kuat, getaran pinggul, dan sikap kesamping. Memiliki 29 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.



SABUK COKLAT

A. KIHON

1. GEDAN BARAI + GYAKU TSUKI ZENKUTSU DACHI Maju 5 kali, mundur 5 kali
2. NIDAN TSUKI Maju 5 kali, matte gedan barai maju 5 kali
3. SAMBON TSUKI Maju 5 kali, matte gedan barai maju 5 kali
4. AGE UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
5. UDE UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
6. UCHI UKE + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
7. UDE UKE + EMPI + URAKEN Maju 5 kali, mundur 5 kali
8. UCHI UKE + ISAME + GYAKU TSUKI Maju 5 kali, mundur 5 kali
9. SHUTO UKE + REN MAWASI GERI + NUKITE Maju 5 kali, Mate Gedan barai maju 5 kali
10. MAEGERI CHUDAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
11. MAEGERI JODAN Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
12. REN GERI MAEGERI CHUDAN/JODAN (dua kaki) Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
13. MAWASI GERI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
14. MAEGERI CHUDAN + MAWASI GERI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
15. MAEGERI CHUDAN + KIKOMI Maju 5 kali, Mawate Kamae-te maju 5 kali
16. KEANGE KIBA DACHI Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali
17. KIKOMI Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali
18. REN GERI KEANGE/KEKOMI (DUA KAKI) Maju 3 kali, Mawate Kamae-te maju 3 kali

B. KUMITE

JIYUU IPPON KUMITE (Perkelahian setengah bebas)
* CHUDAN TSUKI
* JODAN TSUKI
* MAEGERI CHUDAN
* KIKOMI
* MAWASI GERI
(BERGANTIAN KANAN KIRI)

C. KATA

1 BAISAIDAI

Bassai-Dai berarti menghancurkan pertahanan musuh dengan kecerdikan dan menemukan kelemahan lawan (kebanyakan mengartikan “Gempuran yang sangat Kuat”). Kata ini dipelajari pada tingkat Kyu 3 hingga tingkat Shodan ( Dan I ). Aslinya disebut Passai, Kata ini pertama kali diperlihatkan di Tomari dan shuri. Bassai-Dai adalah Kata Shorin.
Penting : Rotasi Pinggul, kekuatan penuh, semangat yang kuat dan luapan tenaga, ketidak-untungan harus menjadi keuntungan. Memiliki 42 gerakan, dengan waktu aplikasi 60 detik.

2 TEKKI SHODAN

Tekki berarti kuda besi atau posisi berkuda. Tekki Shodan adalah kata Tekki pertama dalam seri Kata Tekki. Kata Tekki adalah Kata Shorei, menggambarkan kekuatan, tehnik yang penuh tenaga. Kata Tekki diciptakan dan direvisi oleh Yasutsune itosu. Funakoshi menghabiskan waktu tiga tahun untuk belajar dan menguasai masing-masing Kata Tekki ini ( pada waktu itu, setiap murid menghabiskan beberapa tahun untuk mempelajari Kata ). Tekki Shodan mempunyai nama asli Naihanchi dan diperkenalkan oleh Itosu, Tekki Nidan dan Sandan diciptakan oleh Itosu. Belum ada penjelasan yang memadai kenapa Tekki memiliki perlintasan gerakan satu garis, meskipun kadang terpikir dilakukan dengan baju besi dan/atau diatas punggung kuda (hal ini tidak bisa diaplikasikan secara teknis). Makna dari Kata ini dapat juga pertahanan dengan latar belakang dinding/tembok atau diatas perahu.
Penting : Posisi badan rendah yang kuat, getaran pinggul, dan sikap kesamping. Memiliki 29 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.