FOTO BERSAMA

FOTO BERSAMA
Keluarga Besar Lemkari Yapalis Karate Club Krian

SELAMAT JUMPA DI BLOGGER LEMKARI YAPALIS KARATE CLUB KRIAN

ILMU BELADIRI KARATE SEJATI ( yapalis karate club )

“ Ilmu Beladiri “ dijaman sekarang telah menjadi ajang pamer kegagahan, keindahan “ Seni” dan kekuatan fisik belaka. Mereka seakan “Lupa” bahwa Inti dari belajar Beladiri adalah untuk mendapatkan “ Ilmu beladiri “ yang tidak terbatas, jangan cuma hanya pada pengertian sempit yaitu “ Ilmu berkelahi “ saja.

“ Ilmu Beladiri Karate Sejati “ memiliki makna yang sangat luas bagi kehidupan yang sedang kita jalani ini, karena didalam ilmu tersebut diajarkan bagaimana kita dapat mengalahkan tantangan-tantangan hidup yang datang dari luar yaitu : cuaca panas- dingin, mencari nafkah, kelaparan, kehausan, serangan binatang buas atau manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki rasa welas asih serta datangnya penyakit, demikian pula serangan yang datangnya dari dalam diri sendiri, seperti halnya perasaan takut, rasa cemas, frustrasi, keragu-raguan, kebencian, kemarahan, kesedihan dan kesenangan yang berlebihan.

Semua itu hanya dapat dihadapi dan ditanggulangi dengan memiliki “Ilmu Beladiri Karate Sejati “ yang berisikan tentang kesadaran sejati, sikap belas kasih, penyabar, menghormati dan menghargai orang lain, suka menolong, kejujuran, kesungguhan hati, kesetiaan, keberanian, menggunakan logika, ketegaran hati, jiwa besar dan jiwa kesatria.

Sebagai manusia yang berilmu beladiri Karate sejati dan berpengetahuan, kita harus “menghargai diri kita sendiri “, tidak benar jika kita membiarkan diri kita dianiaya baik secara fisik maupun perasaan oleh pihak lain,… “ Orang yang berjuang untuk membela dirinya sendiri dapat digolongkan sebagai orang yang sedang melaksanakan Ibadah”.


Selamat datang

LEMKARI YAPALIS KARATE CLUB KRIAN

( SIDOARJO – JAWA TIMUR – INDONESIA )

Karate adalah seni bela diri dan sistem pertahanan diri. Secara harfiah "karate-do" berarti cara dari tangan kosong, mengacu pada fakta bahwa praktisi hanya menggunakan tangan, kaki dan tubuh. Karate juga didirikan pada tradisi filosofis dan spiritual dan berkembang tidak hanya tubuh tetapi juga pikiran dan karakter.Pada akhirnya tujuan karate tidak kecakapan fisik tetapi pengembangankeseimbangan, harmoni dan semangat melalui pelatihan disiplin yang Bumiputera berupaya menumbuhkan Anda dengan kedamaian dan keutuhan karakter untuk memperkaya hari-hari kehidupan.

LEMKARI YAPALIS KARATE CLUB ini memiliki instruktur yang berpengalaman,termasuk Instruktur Kepala Sensei Rudy Purnawan ( DAN IV Karate )
Shotokan berfokus pada Kihon (dasar), Kata (bentuk) dan Kumite (sparring) untukmengembangkan berbagai teknik yang kuat dan dinamis. Karena penekanan kuat pada dasar-dasar itu adalah mudah bagi pemula untuk melatih sama dengan individu yang lebih berpengalaman.

karate Terminologi

ichi 1
ni
2
san
3
shi
4
go 5
roku
6
Shichi
7
hachi
8
ku
9
ju
10

Posisi/Sikap
zenkutsu
sikap Dachi depan
hachiji
sikap alami Dachi
kokutsu
sikap Dachi kembali
kiba
sikap Dachi kuda
sochin
sikap tidak bergerak Dachi
neko ashi
sikap Dachi kucing
shizen tai
sikap siap

Teknik Menangkis/Memblokir
age uke Menangkis/blok keatas/meningkat
ude uke Menangkis/blok lengan dari luar tengah
gedan barai
Menagkis/blok ke bawah
uchi uke
Menangkis/blok lengan dari dalam
Shuto uke
Menagkis/blok dengan pisau tangan
kakiwake uke
Menangkis/blok dua tangan memisahkan

Teknik lengan tangan
tsuki
pukulan
oi zuki
melangkah dalam pukulan
gyaku zuki
terbalik pukulan
kizami zuki
jab pukulan
nukite
pukulan tombak tangan terbuka rapat
ura-ken
lecutan/hentakan pukulan

EMPI pukulan siku

Teknik kaki
keri
tendangan
maeh geri
depan sekejap tendangan
mawashi geri
tendangan dari arah samping
yoko geri
sisi kekomi dorong tendangan
yoko geri keage
sisi sekejap tendangan
Ushiro geri
kembali tendangan

Pengartian
jo Dan
kepala tingkat
chu Dan
perut tingkat
Ge Dan lebih rendah tingkat
sanb
on kumite tiga langkah perdebatan
ippon kumite
satu langkah perdebatan
jiyu kumite
semi-bebas perdebatan

Ketentuan Lain
kihon
dasar pelatihan
kiai
semangat fokus
kime
fokus
rei
hormat

Yoi sikap alami
Yame
berhenti
mawatte
mengubah
Hajime
mulai
mokuso
meditasi
Seiza
berlutut posisi

Total Tayangan Halaman

Jumat, 22 Januari 2010

Kata Shotokan

Kata Shotokan

Kata yang berarti bentuk resmi atau kembangan juga memiliki arti sebagai filsafat. Kata memainkan peranan yang penting dalam latihan karate. Setiap kata memiliki embusen (pola dan arah) dan bunkai (praktik) yang berbeda-beda tergantung dari kata yang sedang dikerjakan. Kata dalam karate memiliki makna dan arti yang berbeda. Bahkan kata juga menggambarkan sesuatu. Inilah kata sebagai filsafat.

Karena itulah kata memiliki peranan yang penting sejak jaman dulu dan menjadi latihan inti dalam karate. Gichin Funakoshi mengambil kata dari perguruan Shorei dan Shorin. Shotokan memiliki 26 kata yang terus dilatih hingga kini. Ada yang populer ada pula yang tidak. Masing-masing mempunyai tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Karena itu wajib bagi tiap karateka untuk mengulang berkali-kali bahkan ratusan kali.
Kata Arti Nama Asli
Heian Shodan Pikiran yang damai (1) Pinan Nidan
Heian Nidan Pikiran yang damai (2) Pinan Shodan
Heian Sandan Pikiran yang damai (3) Pinan Sandan
Heian Yondan Pikiran yang damai (4) Pinan Yondan
Heian Godan Pikiran yang damai (5) Pinan Godan
Tekki Shodan Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (1) Naihanchi
Tekki Nidan Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (2)
Tekki Sandan Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (3)
Bassai Dai Menembus benteng (besar) Passai
Kanku Dai Menatap langit (besar) Kushanku
Enpi Burung layang-layang terbang Wanshu
Hangetsu Bulan separuh Seishan
Jion Nama biksu Budha, pengampunan Jion
Nijushiho 24 langkah Niseishi
Sochin Memberi kedamaian bagi orang banyak Sochin
Bassai Sho Menembus benteng (kecil)
Kanku Sho Menatap langit (kecil)
Jitte Bertarung seolah-olah dengan kekuatan 10 orang Jitte
Chinte Tangan yang luar biasa Chinte
Meikyo Cermin jiwa Rohai
Jiin Gema Kuil, Dasar kuil
Gankaku Bangau diatas batu Chinto
Wankan Mahkota raja Wankan
Gojushiho Sho 54 langkah (kecil)
Gojushiho Dai 54 langkah (besar) Useishi
Unsu Tangan seperti (menyibak) awan di angkasa Hakko

Menembus Benteng

Menembus Benteng

Bagi Anda yang yang fokus berlatih kata tentu tidak asing Bassai Dai. Kata ini mempunyai banyak versi dan empat besar aliran karate di Jepang – Shoto, Wado, Goju, Shito – mempunyai versi yang berbeda satu sama lain. Berdasarkan huruf kanjinya kata ini mempunyai makna menembus benteng, namun ada juga yang mengartikan mengalahkan lawan dengan mencari titik lemahnya. Mengapa bahasan kali ini mengambil Bassai Dai, tidak mengambil kata lain yang punya tingkatan kesulitan lebih tinggi ? Ternyata, Bassai Dai adalah kata yang mempunyai nilai historis yang unik.

Bassai Dai nama aslinya adalah Passai. Sedangkan asalnya kata ini tidak begitu jelas. Sama sulitnya dengan mencari tahu kebenaran sejarah dari karate itu sendiri yang pada akhirnya kita harus percaya pada cerita dan legenda. Namun ada beberapa teori yang menyatakan bahwa Bassai Dai bersumber dari kungfu Cina Tinju Singa (begitu kira-kira dalam bahasa Indonesia) yang terlihat dari teknik tangan terbuka dan teknik menjejak lantai. Sementara sumber lain menyatakan kata ini berasal dari kungfu Cina Tinju Macan Tutul yang tampak dari gerakan awal kata ini yaitu serangan dengan kuda-kuda menyilang. Nama singa dan macan tutul sendiri dalam dialek Mandarin adalah “Baoshi”, sementara dalam dialek Fuzhou diucapkan “Baasai”, sedang dalam dialek Quanzhou diucapkan dengan “Pausai”.

Di Okinawa sendiri perubahan dari Passai ini terlihat dari versi yang diperkenalkan oleh Sokon Matsumura – yang dipercaya sebagai tokoh sentral dari semua aliran karate saat ini, sekaligus yang memperkenalkan kata ini dengan Passai – dengan Oyadomori no Passai (setelah ahli karate Kokan Oyadomari memberi nama kata ini) dengan versi modifikasi yang diperkenalkan oleh Itosu yang juga guru dari Funakoshi ketika memperkenalkan karate ke sekolah-sekolah umum.

Versi Masumura terlihat begitu kental dengan teknik Cina sementara milik Oyadomari telah “diOkinawakan”, sedang milik Itosu adalah modifikasi dari keduanya. Termasuk munculnya Bassai Sho yang (diduga) merupakan hasil modifikasi Itosu. Saat membawa karate ke Jepang Gichin Funakoshi juga mengajarkan Bassai Dai dan Sho.

Orang-orang Okinawa sendiri tidak mempunyai definisi yang pasti dari Passai. Di kemudian hari saat Funakoshi mengubah nama kata Shotokan sebagai bentuk modernisasi karate, barulah kata ini mempunyai arti nama yang jelas berdasarkan huruf kanjinya. Makna “benteng” dan “menyingkirkan penghalang” muncul dari huruf kanji Bassai. Namun begitu secara keseluruhan, bentuk kata Bassai milik Shotokan tidak menunjukkan hubungan langsung dengan bentuk aslinya.

Fakta unik, tiga pukulan yama tsuki sebelum akhir kata ini membentuk mirip huruf kanji “gunung”. Hal ini sebenarnya biasa saja mengingat kata Shotokan yang lain seperti Hangetsu dan Jitte juga memuat posisi tubuh yang membentuk huruf kanji ini. Dan kata Shotokan jika diteliti lebih jauh dari embusennya membentuk huruf kanji juga. Contoh lain adalah Jion yang jika dilihat membentuk huruf kanji Budha. Dan memang Jion ada yang mengartikan nama biksu Budha atau nama kuil Budha (Bahkan di Jepang juga festival dengan nama Jion).

Shotokan saat ini melatih dua versi yaitu Dai dan Sho. Versi Bassai Sho lebih pendek dari versi Dai. Itosu memodifikasi kata Passai dan menghasilkan versi Sho. Yang lebih membingungkan lagi bahkan Bassai Sho ditulis sama dengan huruf Cina Ba Ji Xiao yang merupakan bagian dari Ba Ji Da (dari aliran kungfu Ba Ji Ch’uan). Jadi mungkinkan kedua kata ini sejak awalnya sudah berpasangan, dan bukan Itosu yang memodifikasinya ? tampaknya akan tetap menjadi misteri.

Mengapa Kita Harus Kiai ?

Mengapa Kita Harus Kiai ?

Kiai, yang berarti teriakan semangat merupakan salah satu komponen penting dalam berlatih karate. Bukan sekedar mengeluarkan udara dan suara sekeras-kerasnya, namun lebih dari itu. Kiai yang salah hanya akan membahayakan karateka itu sendiri, karena dalam kondisi itu akan mudah diserang. Bahkan dalam serangan yang lemah sekalipun. Hal ini sering terjadi dalam turnamen. Mungkin karena terlambat kiai akhirnya serangan lawan masuk. Dan bisa ditebak, sakitnya jangan ditanya lagi. Belajar dari pengalaman, ternyata kiai ketika kita dipukul lebih sakit daripada kita dalam latihan biasa (yang tidak ada lawannya tentu saja !).

Nah, kembali ke masalah kiai tadi. Secara teori sebenarnya ada tiga manfaat poin penting dalam kiai. Yang pertama tentu saja menunjukkan semangat bertarung alias fighting spirit kita. Jelas kita nggak mungkin bertanding tanpa mengeluarkan suara. Seorang teman bilang, “Nggak seru deh, rasanya kok nggak niat”, begitu katanya. Dan rasanya pendapat itu tidak salah juga. Coba bayangkan sendiri kalau Anda kumite dengan lawan yang seperti itu. Dalam sesi latihan biasanya kiai pada gerakan kelima atau kesepuluh, jika berlatih dasar (kihon). Atau pada teknik yang terakhir. Umumnya senior/pelatih akan memberikan aba-aba untuk berteriak.

Jangan dikira kiai adalah pekerjaan mudah. Umumnya sering saya melihat yunior-yunior sangat sulit kalau disuruh kiai setiap akhir suatu teknik. Kalau murid pemula seharusnya tidak masalah, tapi kalau murid tingkat lanjut ? Tentu ini jadi masalah kalau harus turun dalam turnamen resmi. Karena fungsi kiai disini juga untuk mengantisipasi cedera dalam kumite. Kedua, mempengaruhi lawan. Bagaimana bisa dengan hanya berteriak lawan akan terpengaruh bahkan sampai ketakutan. Ada istilah kiai jutsu dalam dunia bela diri, dimana dengan hanya berteriak maka lawan akan mengurungkan serangan.

Rahasianya ternyata cukup simpel, dimana saat kita berteriak harus dilandasi dengan semangat berperang yang sungguh-sungguh tanpa keraguan dan ketakutan. Yang pasti saya tidak mengatakan ini mudah, karena saat kita maju menghadapi lawan ketakutan pasti ada. Dan rasanya itu hal yang manusiawi. Sedangkan yang terakhir, kiai bisa juga berfungsi sebagai elemen yang meningkatkan tenaga dengan memberi penekanan pada otot.

Dalam suatu acara demonstrasi, umumnya acara puncaknya adalah tamesware (pemecahan). Kalau Anda perhatikan, si peraga tentu kiai saat memecahkan batu, kayu, es atau apapun yang menjadi bahan tameswarenya. Tidak masalah dengan menggunakan bagian tubuhnya yang mana untuk memecahkan. Tentu saja dengan memecahkan harus didukung dengan pernapasan dan kime (fokus/konsentrasi) yang benar. Nah, itulah rahasianya kiai. Tapi boleh dong kalau saya menambahkan satu lagi. Kiai juga bisa membuat kita lebih rileks dan segar alias fresh. Dan memang dari sudut psikologi berteriak adalah salah satu cara menghilangkan ketegangan fisik dan pikiran. Anda setuju ?

Rancangan Kalender FORKI 2010

Rancangan Kalender FORKI 2010

JANUARI :
• 16 – 17 Kongres FORKI XIII, Jakarta
FEBRUARI :

MARET :
• Kejurnas Piala KASAD X, Jawa Timur
• Pelantikan PB. FORKI
• Seminar Wasit Nasional III
APRIL :
• Pelatnas Asian Games XVI Guangzhou, China
• Sertifikasi Pelatih / Madya
• Pelatnas Junior
MEI :
• Pelatnas Asian Games XVI
• Kejuaraan MAESA Cup
• Pelatnas Junior
JUNI :
• Pelatnas Asian Games XVI
• Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) III
• AKF Cadet & Junior Championship
JULI :
• Pelatnas Asian Games XVI
• World University Karate Chsampionship, Montenegro
AGUSTUS :
• Pelatnas Asian Games XVI
• Asian Matrial Arts Games, Beijing - China
SEPTEMBER :
• Pelatnas Asian Games XVI
OKTOBER :
• Pelatnas Asian Games XVI
• Oct. or Nov. WKF Congres
• Oct. or Nov. 20th World Senior Championships, Belgrade - Serbia
NOPEMBER :
• Pelatnas Asian Games XVI
• HUT FORKI Ke – 48
• 12 – 27 16th Asian Games, Guangzho - China
DESEMBER :

Kamis, 21 Januari 2010

KUMITE / PERTARUNGAN

KUMITE / PERTARUNGAN

PENDAHULUAN

Kumite merupakan bagian dari latihan karate yang mengajarkan karateka untuk mempraktekkan tehnik menyerang , bertahan dan menyerang balik dengan sungguh-sungguh tetapi dengan keamanan tinggi.
Kumite adalah bagian karate yang merupakan hal baru, pada saat Bapak Karate Gichin Funakoshi hidup, tidak ada latihan kumite, yang beliau ajarkan terbatas hanya Kihon dan Kata. Setelah Beliau wafat dan anaknya mengajarkan karate, dan ketika karate mulai diajarkan disejumlah universitas di Jepang, mulailah Kumite dan Kompetisi menjadi popular.

Merupakan kesalahan besar jika kita menganggap latihan kumite diatas segalanya, Masatoshi Nakayama, Dan IX, mengatakan bahwa didalam Kata kita telah berlatih dengan musuh yang dibayangkan, hanya gerakan tubuh dan menggunakan lebar jarak dalam tehnik menyerang dan menangkis. Kumite akan mengingatkan kita pada hal-hal yang kecil tetapi merupakan hal penting yang terkandung dalam karate. Oleh karena itu tanpa pengusaan Kihon dan Kata yang baik , kita tidak akan dapat melakukan Kumite dengan baik.

Jika tehnik karate digunakan dengan paksaan/tidak natural atau dengan jalan kekuatan, tubuh akan menjadi rusak dan jika tehnik kata menjadi rusak ketika diaplikasikan, maka latihan Kumite tidak akan mencapai tujuannya. Dengan kata lain, pengenbangan latihan Kumite berhubungan secara langsung dengan pengembangan dalam Kata. Keduanya berjalan bersama0sama seperti tangan yang memakai sarung tangan.

Etika dan sikap hormat kepada pasangan latihan kumite harus diperlihatkan selama melakukan praktek kumite. Ketka latihan Kihon ( dasar ) di Dojo, karateka harus melangkah kedepan dengan kecepatan dan tenaga, teriakan “Kiai” memperlihatkan semangat yang baik. Ketikan berlatih Kumite di Dojo, karateka melakukan gerakan melangkah kebelakang untuk memperlihatkan sikap hormat dan terimakasih kepada pasangan yang telah membantunya dalam latihan mereka. Latihan kumite dimulai dan diakhiri oleh masing-masing pasangan dengan sikap Musubi-Dachi ( sikap berdiri, tumit menyentuh lantai dan ujung kaki membentuk sudut 45°, tangan terbuka dan menyentuh bagian luar paha ) berhadap-hadapan dan saling memberi hormat ( membungkukkan badan ).

MACAM-MACAM KUMITE

Jepang - Indonesia
Kihon Ippon Kumite Pertarungan Dasar Satu Langkah
Go-Hon Kumite Pertarungan Lima Langkah
Sanbon Kumite Pertarungan Tiga Langkah
Keashi Ippon Kumite Pertarungan Dua Langkah
Jiyu Ippon Kumite Pertarungan Semi Bebas
Okuri Jiyu Ippon Kumite Pertarungan Semi Bebas Dua Langkah
Jiyu Kumite Pertarungan Bebas

1. KIHON IPPON KUMITE ( Pertarungan Dasar Satu Langkah )

Metode ini dimulai dengan perintah “Yoi” ( siap ), kedua pasangan menggerakkan kaki kanan, bergerak hingga membentuk sikap Hachiji-Dachi ( kaki tebuka, jarak antara tumit selebar bahu, ujung kaki membentuk sudut 45º ). Karateka yang menyerang pertama mengambil sikap Gedan-barai langkah belakang ( kanan atau kiri, sesuai instruksi ) dan memberitahukan kecepatan, tingkat dan tehnik serangan.
Karateka yang bertahan konsentrasi atau memikirkan tehnik tangkisan yang akan digunakan dan memberitahukan kepada karateka penyerang dengan kata Osh! Karateka Penyerang harus memfokuskan serangan kepada target yang telah ditentukan dengan semangat dan kontrol yang baik, menjamin bahwa tehnik telah dilakukan dengan baik ( sikap, pernafasan dan Kime ). Karateka Bertahan harus memperlihatkan semangat dan control yang baik, menjamin pernafasan dan sikap telah dilakukan dengan baik, dan harus Kime saat menangkis sebelum melakukan serangan balik. Kedua pasangan harus kembali pada posisi semula dan menyatakan Zansin ( kesadaran penuh, kesiapan) hingga instruktur mengatakan Yamea!(stop) dan Enyoi! ( istirahat ). Ketika latihan dengan pasangan, kita bertanggung jawab terhadap keselamatannya , control yang baik harus selalu dilatih.

Tujuan

Mengarahkan karateka untuk melatih tehnik pukulan, tendangan, serangan dan tangkisan dengan musuh dan merasakan melawan dengan tehink karate ketika berhadapan langsung dengan orang lain. Mendemonstrasikan pentingnya latihan tehnik jarak, waktu, gerakan dan kime yang baik

2. GO-HON KUMITE ( Pertarungan Lima Langkah )

Metode ini dimulai seperti Ippon Kumite, tetapi karateka penyerang melakukan serangan lima langkah kedepan untuk memcapai wilayah sasaran/target, dan karateka bertahan melangkah mundur dan menangkis lima kali, setelah tangkisan kelima karateka bertahan melakukan serangan balik dengan Gyaku-zuki ( berteriak “Kiai” ketika menyerang dengan kecepatan dan tenaga ). Go-hon Kumite selalu dilatih lamban dengan hitungan , cepat dengan hitungan dan kemudian cepat dan penuh tenaga tanpa hitungan. Ketika latihan cepat dan penuh tenaga, karateka penyerang tidak harus bergerak kedepan dengan irama, tetapi dia harus merencanakan serangannya untuk dapat merusak pertahanan karateka bertahan. Karateka Bertahan dilarang bergerak mundur hingga serangan terjadi. Pada semua jenis Kumite, kedua pasangan harus konsentrasi penuh dan latihan dengan serius, sebab jika kehilangan konsentrasi akan menyebabkan kecelakaan.

Tujuan

Tujuannya sama dengan Ippon Kumite. Kumite ini juga memberikan latihan kepada karateka dalam perubahan sikap, mengambil jarak sambil bergerak mundur dan mendemonstrasikan pentingnya sikap dan jarak yang baik disemua tehnik.

3. SANBON KUMITE ( Pertarungan Tiga Langkah ).

Metode ini pada dasarnya sama dengan Go-hon Kumite, tetapi hanya tiga serangan. Sanbon Kumite juga dilatih mengunakan tiga tehnik serangan yang berbeda. Seperti Jodan, Chudan, dan Mae-geri or Jodan, Chudan dan Kekomi, dll. Karateka Bertahan harus melakukan tangkisan yang benar terhadap tehnik serangan yang digunakan dan serangan balik setelah tiga tangkisan.

Tujuan

Tujuannya sama dengan Go-hon Kumite, tetapi dengan menambah tekanan dalam latihan dan tingkat tehnik serangan dan tangkisan yang sulit. Hal ini untuk membantu meningkatkan “ Kemampuan Berfikir “, seperti reaksi, ingatan, konsentrasi, dll.

4. KEASHI IPPON KUMITE ( Pertarungan Dua Langkah )


Metode ini dimulai dengan perintah “Yoi”. Kedua pasangan menggerakkan kaki kanan membentuk Hachiji-Dachi. Karateka yang menyerang pertama mengambil sikap gedan-barai mundur ( kanan atau kiri sesuai dengan instruksi ) dan memberitahukan kecepatan , tingkat dan tehnik dalam menyerang. Karateka Bertahan konsentrasi atau memikirkan tehnik yang akan digunakan dan memberitahukan karateka Penyerang dengan kata Osh! Karateka Penyerang menetapkan wilayah sasaran dengan tehnik yang benar, sementara karateka Bertahan melangkah mundur untuk menangkis dan diselesaikan dengan sebuah serangan balik. Serangan harus difokuskan pada target sasaran dengan semangat dan control yang baik, menjamin bahwa melakukan tehnik dengan benar ( jarak, pernafasan, dan kime ). Karateka Bertahan harus memperlihatkan semangat dan konrol yang baik, menjamin pernafasan dan sikapnya benar dan harus Kime dalam menangkis sebelum melangkah kedepan untuk melakukan serangan balik.

Tujuan

Mengajarkan Karateka untuk melatih tehnik pukulan, tendangan, serangan dan tangkisan dengan musuh, sambil bergerak maju dan mundur dan membantu meningkatkan ketepatan waktu, jarak dan kesadaran penuh. Keashi Ippon Kumite memperkenalkan karateka untuk berfikir kapan dia melakukan pertahanan dan melakukan penyerangan.

5. JIYU IPPON KUMITE ( Pertarungan Semi Bebas )

Metode ini dimulai setelah kedua pasangan memberikan hormat dan perintah “Yoi”. Karateka mengambil sikap mundur gedan-barai dan memperagakan posisi gaya bebas ( Jiyu Kamai ). Dalam posisi gaya bebas ini, karateka tidak boleh tegang, tetapi dalam pertahanan, siap dan dapat merubah sikap, posisi badan bergerak, maju atau mundur dan dapat mempertahankan diri mereka dari segala serangan dengan menggunakan lengan dan kaki untuk melakukan tangkisan dan serangan. Jarak harus lebih pendek dari sikap normal kedepan, dengan kaki belakang sedikit menekuk dan berat badan bertumpu diantara kaki depan dan belakang menyebabkan badan maju dan mundur jadi lebih mudah dan cepat, meluruskan kaki yang menekuk akan menambah kecepatan dan jarak pergerakan badan.

Tangan harus selalu diposisinya dimana akan melindungi atau menangkis serangan sambil melakukan pukulan atau serangan kepada musuh. Karateka yang bertahan berkonsentrasi atau memikirkan tehnik yang akan digunakan dan memberitahukannya dengan mengatakan Osh! Serangan harus difokuskan pada target sasaran dengan semangat dan control yang baik, memastikan bahwa tehnik telah dilakukan dengan benar ( Sikap, pernafasan, dan kime ). Karateka yang bertahan harus memperlihatkan semangat dan control yang tinggi saat melakukan tangkisan, memastikan pernafasan dan sikap saat menangkis dilakukan dengan benar dan harus kime sebelum melakukan serangan balik.

Tujuan

Pemperkenalkan karateka dengan keadaan pertarungan yang lebih realistis, pergerakan badan yang lebih ( Tai-sabaki ). Memperkirakan Ma-A (jarak), menggunakan tekukan kaki untuk memudahkan badan melakukan gerakan maju atau mundur dengan jarak yang lebih jauh, ketepatan waktu, dan Zanshin ( penuh kesadaran dan control yang menyeluruh ).

6. OKURI JIYU IPPON KUMITE ( Pertarungan Semi Bebas Dua Langkah )

Metode ini sama dengan Jiyu Ippon, masing-masing karateka memulai dengan Kamai dan karateka pertama memberitahukan target sasaran atau tehnik yang akan digunakan. Karateka kedua memfokuskan pikiran tangkisan dan menyerang balik dengan menjawab Osh! Setelah karateka Bertahan melakukan tangkisan dan serangan balik, Karatek Penyerang melakukan serangan kedua tanpa memberitahukan target sasaran dan tehnik yang dia gunakan.
Karateka penyerang harus memilih target sasaran dan tehnik yang sesuai dengan kesempatan terbaik dan menagrahkan Karateka Bertahan kedalam posisi yang sangat tidak menguntungkan, membuat pertahanan menjadi sulit dilakukan. Karateka Bertahan melakukan tangkisan yang tepat dan serangan balik, menarik kembali setelah serangan balik untuk kamai dan membangun kembali Zanshin ( Kesadaran penuh ). Karateka harus memperlihatkan semangat dan control yang baik, memastikan pernafasan dan sikap dilakukan dengan benar dan kime disetiap tehnik yang dilakukan.

Tujuan

Okuri-Jiyu Ippon Kumite adalah langkah pertama dalam pertarungan gaya bebas. Karateka dilatih untuk melihat keuntungan, pembukaan sebuah serangan, bertahan dari serangan yang tidak diharapkan, melihat posisi terbaik setelah bertahan untuk melakukan serangan balik. Zanshin !

7. JIYU KUMITE ( Pertarungan Gaya Bebas )

Pada dasarnya hanya dapat dilakukan oleh karateka yang memiliki pengetahuan Kihon yang baik, Maai ( jarak), ketepatan waktu, koordinasi, dan yang lebih penting control yang baik. Gaya Bebas hanya dilakukan dengan pengarahan yang ketat dan didalam peraturan dan pengawasan yang tegas. Wasit harus menjelaskan peraturan dan perintah-perintah yang akan dia gunakan dalam memulai dan mengakhiri serangan, dan akan menanyakan kepada kedua karateka apakah mereka mengerti. Wasit akan menjelaskan bahwa tidak ada kontak fisik dan keduanya harus mendengar perintahnya dan patuh. Karatekan memberi hormat kepada wasit dan kepada karateka yang menjadi lawannya dengan perintah Kamai. Ketika wasit memerintahkan Hajime ( mulai ) kedua karateka bergerak untuk menemukan posisi terbaik untuk menyerang, sambil melindungi diri dari serangan mendadak dari musuh. Semangat yang baik harus diperlihatkan selama pertarungan, berteriak “Kiai” setiap melakukan tehnik menyerang dan melakukan semua tehnik dengan benar, memberikan perhatian kepada pernafasan, jarak, ketepatan waktu dan Kime.

Tujuan

Untuk meningkatkan control, tehnik, ketepatan waktu, konsentrasi dan kesadaran penuh dibawah tekanan pertarungan sesungguhnya. Sekarang dengan lebih banyak latihan, semuah tehnik akan menjadi gerakan refleks ( motor responses ). Dalam tehnik bertahan atau menyerang akan terjadi tanpa harus kita pikirkan. Bangsa China dan Bangsa Jepang menyebut pernyataan ini dengan “No Mind”

KARATE INDONESIA CAPAI TARGET TIGA MEDALI EMAS SEA GAMES XXV/2009

KARATE INDONESIA CAPAI TARGET TIGA MEDALI EMAS SEA GAMES XXV/2009


Tim karate Indonesia berhasil mencapai target tiga medali emas, SEA Games XXV/2009 Laos – Vientiane, 10 – 12 Desember 2009. Sesuai dengan rencana perolehan medali dari PB. Forki. Hal ini dikemukakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB Forki Hendardji Soepandji, mewakili Ketua Umum PB Forki, saat melepas atlet Pelatnas SEA Games XXV/2009, di Restauran Pulau Dua Senayan Jakarta, 17 Desember 2009. Acara yang dihadiri Ketua MLP G.A. Pesik, Bendahara PB Forki Iwan Setiawan, Sekretaris Dewan Wasit Robert D. Wendur, dan Sekretaris PB Forki Maxi E. Pauran. “Tim karate Indonesia di ajang SEA Games XXV yang mengikuti 12 kelas pertandingan, berhasil meraih medali disemua kelas. 17 atlet putra/putri yang berlaga di SEA Games semua meraih medali”. Tegas Hendardji.

Hendardji mengatakan, keberhasilan tim karate Indonesia merupakan hasil kerja sama semua pihak, terutama pelatih, manajer, ofisial, atlet, dan pengurus Forki serta Perguruan, baik ditingkat pusat maupun daerah. Untuk itu PB Forki menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, atas keberhasilan tim karate Indonesia memenuhi target perolehan medali di SEA Games XXV/2009.

Atlet karate TIM Pelatnas SEA Games XXV/2009 akan dipulangkan Oleh KONI ke masing-masing daerah, Senin, 21 Desember 2009. Menjawab pertanyaan wartawan persiapan Asian Games XVI/2010 di Guangzhou, China, (Nopember 2010) Sekjen PB Forki mengatakan, Semua Atlet Pelatnas SEA Games XXV ini akan mengkikuti Kejurnas Karate Piala Kasad X di Surabaya yang berlangsung 26 – 28 Maret 2010.

Lebih lanjut dikatakannya, hasil Kejurnas Karate Piala Kasad X/2010 ini, yang terdiri dari juara dimasing-masing kelas akan masuk Pelatnas Asian Games XVI/2010 jangka panjang, yang sejak bulan April 2010, seluruh biayanya ditanggung oleh KONI Pusat,

Pertandingan yang berlangsung di Chao Anouvong Gymnasium (Budo Centre) Vientiane, cabang olahraga (cabor) karate SEA Games XXV 2009 Laos, yang berlangsung dari tanggal, 10 – 12 Desember 2009. Indonesia meraih tiga medali emas, tiga medali perak, dan enam medali perunggu dari 12 kelas pertandingan yang diikuti Tim karate Indonesia. Hasilnya sebagai berikut:

Daftar nama atlet Karate Indonresia SEA Games XXV/2009 Ventiane – Laos:
1. Faizal Zainunddin (kata perorangan putra/beregu putra, medali emas)
2. Aswar (kata beregu putra, medali emas)
3. Fidelys Lolobua (kata beregu putra, medali emas)
4. Yuli Eka Yanti (kata beregu putri, medali perunggu)
5. Dewi Yulianti (Kata beregu putri, medali perunggu)
6. Alit Tresna (Kata beregu putri, medali perunggu).
7. M. Umar Syarief (kumite + 84 kg putra, medali emas, dan kumite beregu Putra, medali perunggu)
8. Hendro Salim (kumite – 84 kg putra, medali perak, dan kumite beregu Putra, medali perunggu)
9. Jintar Simandjuntak (kumite - 67 kg putra, medali perak, dan kumite beregu putra, medali perunggu)
10. Donny Dharmawan (kumite - 60 kg putra, medali perunggu, dan kumite beregu Putra, medali perunggu)
11. Martinel Prihastuti (kumite – 50 kg putri, medali perak, dan kumite beregu putri, medali perunggu)
12. Nurhadiyanti Fitria Ningsih (kumite – 55 kg putri, medali perunggu dan kumite beregu putri, medali perunggu)
13. Puspita Triana Gustin (kumite – 61 kg putri, medali perunggu dan kumite beregu putri, medali perunggu)
14. Tantri Widyasari (kumite beregu putri, medali perunggu)
15. Ismail Aswar (kumite beregu putra, medali perunggu)
16. Rafael Meiriski (kumite beregu putra, medali perunggu)
17. Yelovin Prasetyo (kumite beregu putra, medali perunggu).

Berlatih Hidup - Melawan Topan

Berlatih Hidup - Melawan Topan

Gichin Funakoshi - My Way of Life - Kodansha Internasional

Barangkali akan lebih rendah hati jika membiarkan orang lainlah yang menceritakan perbuatan kepahlawanan seorang anak muda ini daripada aku lakukan sendiri. Tetapi hasilnya aku menelan rasa malu, aku disini untuk menjelaskan kalimat dari Yukio Togawa, pengarang, yang tidak bertanggung jawab dengan menjamin kepada para pembaca bahwa kejadian yang diceritakannya memang benar-benar terjadi. Para pembaca dapat merasakan suatu hal yang gila, tetapi aku tidak menyesal.

’’Langit yang diatas,’’ tulis Tuan Togawa,’’berwarna hitam, dan dari sana muncul angin melolong yang menyapu bersih apapun yang berdiri dijalannya. Gudang yang besar bagaikan ranting pohon yang ditarik, debu dan batu kerikil beterbangan keudara, menyengat wajah seorang pemuda’’.

’’Okinawa dikenal sebagai pulaunya angin topan, dan kekejaman badai tropis ini sulit untuk dijelaskan. Untuk melawan serangan angin ganas yang melanda pulau ini setiap tahunnya, selama musim badai rumah-rumah di Okinawa dibangun merendah dan sekuat mungkin. Rumah-rumah itu selain dikelilingi tembok batu yang tinggi, pada genting diatapnya juga masih dilindungi dengan batu. Tetapi angin yang berhembus memang sungguh luar biasa (kadang-kadang kecepatannya bisa mencapai seratus mil perjam) yang masih saja menggetarkan rumah-rumah, walaupun sudah ada tindakan pencegahan sebelumnya’’.

’’Pada suatu angin topan aku ingat, semua orang di Shuri berkumpul bersama-sama dirumah mereka masing-masing. Berdoa agar angin topan itu segera lewat tanpa meninggalkan kerusakan yang besar. Tidak, ternyata aku salah ketika berkata semua orang-orang Shuri berkumpul dirumah ; ternyata ada seorang anak muda, diatas atap rumahnya di Yamakawa-cho, yang bermaksud melawan angin topan itu’’. ’’Setiap orang yang melihat anak muda yang sendirian ini pastilah akan menyimpulkan bahwa dia sudah kehilangan akal sehatnya. Hanya memakai pakaian hingga sebatas pinggangnya, dia berdiri diatas genting atap rumahnya yang licin dan dipegang oleh kedua tangannya sebuah tatami (tikar jepang dari jerami) untuk melindungi tubuhnya dari angin yang melolong. Pasti dia telah jatuh ketanah berkali-kali, hampir disekujur tubuhnya yang telanjang telah berlumuran lumpur’’.

’’Anak muda itu tampaknya berumur sekitar dua puluh tahun, atau bahkan mungkin lebih muda. Ukuran tubuhnya kecil, tidak sampai lima kaki, tetapi bahunya besar dan otot-ototnya terlihat kekar. Rambutnya disisir seperti gaya seorang pegulat sumo, dengan sebuah jambul dan sebuah peniti perak, menandakan bahwa dia termasuk golongan shizoku’’. ’’Tetapi ini bukanlah hal yang penting. Yang menarik adalah ekspresi di wajahnya ; mata yang terbuka lebar, berkilau dengan sorot yang aneh, keningnya melebar, kulit yang memerah seperti tembaga.

Dia mengatupkankan giginya ketika angin itu bertiup kearahnya, dia mengeluarkan sebuah aura yang berkekuatan luar biasa. Ada yang bilang anak muda ini adalah salah satu pengawalnya raja-raja Deva’’. ’’Sekarang anak muda diatas atap itu menurunkan posisi badannya, mengangkat tikar jerami itu melawan angin yang mengamuk.

Kuda-kuda yang dilakukannya sangat mengesankan, dia berdiri mengangkang seolah-olah sedang menunggang kuda. Benar, setiap orang yang tahu karate dapat dengan cepat mengetahui anak muda itu sedang melakukan kuda-kuda menunggang kuda, kuda-kuda yang paling stabil diantara semua kuda-kuda karate. Dan dia menggunakan angin topan itu untuk memperbaiki tekniknya, dan lebih jauh lagi untuk memperkuat tubuh dan pikirannya. Angin menabrak tikar dan anak muda itu dengan kekuatan penuh, tetapi dia berdiri diatas pijakannya dan tidak menghindarinya’’.